Tentara Israel menjadi salah satu kekuatan bersenjata yang paling banyak diperbincangkan di dunia, terutama sejak konflik di Timur Tengah kembali mengalami eskalasi besar setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Dalam beberapa tahun berikutnya, militer Israel terlibat dalam operasi di Gaza, perbatasan Lebanon, serta berbagai operasi yang berkaitan dengan ancaman dari Iran dan kelompok bersenjata di kawasan.
Secara resmi, militer negara tersebut dikenal sebagai Israel Defense Forces atau IDF. Organisasi ini tidak hanya mencakup angkatan darat. Angkatan udara, angkatan laut, pertahanan wilayah, intelijen militer, pasukan cadangan, serta berbagai unit pendukung berada dalam struktur pertahanan yang terintegrasi.
Pada 2026, IDF dipimpin oleh Letnan Jenderal Eyal Zamir sebagai Chief of the General Staff. Ia menjadi pejabat militer tertinggi dalam struktur IDF dan memimpin organisasi ketika Israel menghadapi operasi di beberapa wilayah sekaligus. Knesset pada Mei 2026 juga menyebut Zamir memberikan laporan mengenai operasi yang berkaitan dengan Iran dan Lebanon dalam pertemuan tertutup bersama komisi pertahanan parlemen.
IDF Berdiri Bersamaan dengan Pembentukan Negara Israel
Israel Defense Forces dibentuk pada 1948, tidak lama setelah berdirinya Negara Israel. Militer baru tersebut menggabungkan sejumlah organisasi bersenjata Yahudi yang telah beroperasi sebelumnya.
Sejak periode awal tersebut, IDF berkembang melalui sejumlah peperangan besar yang membentuk sistem pertahanan Israel. Konflik Arab Israel pada 1948, Krisis Suez 1956, Perang Enam Hari 1967, Perang Yom Kippur 1973, hingga konflik di Lebanon menjadi bagian panjang perjalanan militernya.
Israel kemudian membangun organisasi pertahanan yang mengandalkan kombinasi tentara aktif, wajib militer dan cadangan.
Sistem tersebut dipilih karena jumlah penduduk Israel relatif kecil dibanding luas kawasan serta jumlah negara dan kelompok bersenjata yang pernah menjadi lawannya.
Kepala Staf Menjadi Pemimpin Militer Tertinggi
Struktur komando IDF mempunyai satu kepala staf sebagai pimpinan militer tertinggi.
Jabatan tersebut menggunakan pangkat Letnan Jenderal. IDF menjelaskan bahwa pangkat ini merupakan tingkat tertinggi dalam organisasi militernya.
Pada 2026, jabatan tersebut dipegang Eyal Zamir.
Di bawah kepala staf terdapat berbagai direktorat, komando regional, Angkatan Darat, Angkatan Udara Israel dan Angkatan Laut Israel.
Operasi besar membutuhkan koordinasi antarcabang. Direktorat Operasi mempunyai tugas dalam perencanaan penggunaan kekuatan militer serta koordinasi antara staf umum, komando regional, angkatan udara dan angkatan laut.
Angkatan Darat Menjadi Unsur Terbesar dalam Pertempuran Darat
Pasukan darat menjadi bagian yang sangat terlihat dalam operasi militer Israel, terutama dalam pertempuran yang membutuhkan pengerahan kendaraan lapis baja, infanteri, artileri dan pasukan teknik.
Strukturnya mencakup berbagai brigade reguler serta brigade cadangan.
Unit seperti Golani, Givati, Nahal dan Paratroopers menjadi beberapa brigade infanteri yang dikenal luas. Selain itu terdapat Korps Lapis Baja yang mengoperasikan tank serta unit teknik tempur yang mempunyai kemampuan menangani ranjau, rintangan dan struktur bawah tanah.
Pada 2025, IDF mencatat sekitar 97.500 personel wajib dan cadangan mendapatkan pelatihan menembak melalui struktur Angkatan Darat. Sekitar 6.200 personel menyelesaikan pendidikan perwira pada tahun tersebut.
Tank Merkava Menjadi Identitas Pasukan Lapis Baja
Tank Merkava menjadi salah satu peralatan militer Israel yang paling dikenal.
Pengembangannya dimulai ketika Israel ingin memiliki kendaraan lapis baja yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan militernya sendiri. Generasi terbaru menggunakan berbagai teknologi perlindungan, sensor, komunikasi dan sistem kendali tembakan.
Israel juga menggunakan kendaraan lapis baja Namer untuk membawa pasukan infanteri.
Dalam peperangan perkotaan, kendaraan lapis baja digunakan untuk memberikan perlindungan kepada personel yang bergerak bersama unit infanteri.
Namun peperangan di kawasan berpenduduk padat juga menempatkan penggunaan kekuatan berat dalam sorotan besar karena risiko terhadap penduduk sipil dan infrastruktur.
Angkatan Udara Menjadi Salah Satu Kekuatan Utama Israel
Israeli Air Force atau IAF mempunyai posisi sangat penting dalam strategi pertahanan negara tersebut.
IDF menyebut Angkatan Udara menangani berbagai tugas, termasuk pertahanan wilayah udara, dukungan terhadap pasukan darat dan pelaksanaan operasi serangan udara. Institusi tersebut telah menjadi bagian utama IDF sejak 1948.
Israel mengoperasikan sejumlah pesawat tempur modern, termasuk F 35I Adir, F 15 dan F 16 dengan berbagai konfigurasi.
Selain pesawat berawak, drone digunakan dalam pengintaian, pemantauan dan sejumlah tugas militer lainnya.
Kemampuan udara memberikan Israel jangkauan operasi yang lebih luas dibanding hanya mengandalkan pasukan darat.
Pertahanan Udara Menjadi Unsur Penting
Israel menghadapi ancaman roket, rudal balistik, rudal jelajah dan drone dari berbagai arah. Kondisi tersebut mendorong pembangunan sistem pertahanan udara berlapis.
Iron Dome dikenal sebagai sistem yang digunakan menghadapi roket jarak relatif pendek.
Lapisan lainnya mencakup David’s Sling serta keluarga sistem Arrow yang dirancang menghadapi ancaman rudal dengan karakter berbeda.
Tidak setiap proyektil otomatis dicegat. Sistem pertahanan melakukan penilaian lintasan dan prioritas sasaran berdasarkan berbagai parameter.
Penggunaan jaringan sensor, radar dan pusat komando kemudian menjadi bagian penting dalam pertahanan wilayah Israel.
Angkatan Laut Menjaga Pantai dan Jalur Maritim
Meskipun kekuatan darat dan udara lebih sering memperoleh perhatian, Israel juga memiliki angkatan laut dengan peranan strategis.
Israeli Navy bertugas melindungi Israel dari ancaman laut, menjaga jalur maritim, mendukung pasukan lain, melakukan pencarian dan penyelamatan serta berbagai kegiatan operasi laut.
Israel mempunyai pangkalan angkatan laut di Haifa, Ashdod, Atlit dan Eilat.
Haifa menjadi salah satu pusat utama karena menghadap Laut Mediterania. Eilat memberikan akses menuju Laut Merah.
Armada Israel mencakup kapal rudal dan kapal selam.
Shayetet 13 Menjadi Unit Komando Laut
Salah satu unit yang paling dikenal adalah Shayetet 13.
IDF menggambarkannya sebagai pasukan komando laut yang mempunyai kemampuan beroperasi melalui laut, darat dan udara. Pangkalan permanennya berada di Atlit.
Angkatan Laut juga mempunyai Shayetet 3 yang mengoperasikan kapal rudal dan Shayetet 7 yang berkaitan dengan kapal selam.
Informasi rinci mengenai sebagian operasi unit tersebut tidak dipublikasikan karena sifat pekerjaannya.
Israel dalam beberapa tahun terakhir turut meningkatkan latihan yang menghubungkan operasi laut dengan pasukan darat dan udara. Latihan Divisi ke 80 pada awal 2026, misalnya, melibatkan pasukan dari darat, udara dan laut dalam skenario pertahanan serta operasi gabungan.
Wajib Militer Membentuk Sistem Pertahanan Israel
Salah satu ciri utama IDF adalah penggunaan sistem wajib militer.
Sebagian warga Israel yang memenuhi persyaratan diwajibkan mengikuti dinas militer setelah mencapai usia tertentu, walaupun terdapat pengecualian serta aturan berbeda berdasarkan jenis kelamin, komunitas, kondisi kesehatan dan berbagai faktor lainnya.
Pada 17 Juli 2026, Knesset mengesahkan ketentuan sementara yang memperpanjang periode wajib militer menjadi 32 bulan. Aturan tersebut disahkan dengan 43 suara mendukung, 12 menolak dan satu abstain.
Perubahan terjadi ketika IDF menghadapi kebutuhan personel yang meningkat setelah beberapa tahun operasi intensif.
IDF Mengaku Kekurangan Ribuan Personel
Persoalan jumlah tentara menjadi perdebatan besar di Israel.
Dalam pertemuan Komisi Luar Negeri dan Pertahanan Knesset pada Mei 2026, pejabat IDF menyampaikan adanya kekurangan sekitar 12.000 personel.
Dari jumlah tersebut, sekitar 6.000 sampai 7.500 merupakan kebutuhan pada posisi tempur.
Kekurangan tenaga turut memicu perdebatan mengenai perekrutan kelompok ultra Ortodoks atau Haredi.
Selama bertahun tahun, banyak pria Haredi yang belajar penuh waktu di lembaga keagamaan memperoleh pengecualian atau penundaan dinas. Persoalan tersebut kemudian menjadi salah satu isu politik dan hukum terbesar di Israel karena personel reguler serta cadangan menghadapi pengerahan yang panjang.
Pada Januari 2026, Eyal Zamir secara terbuka menyatakan IDF perlu memperluas jumlah personel dan mendorong perekrutan Haredi lebih besar.
Pasukan Cadangan Menjadi Tulang Punggung ketika Perang Membesar
Model pertahanan Israel sangat bergantung kepada reservist atau personel cadangan.
Setelah menyelesaikan dinas wajib, banyak warga tetap berada dalam sistem cadangan dan dapat dipanggil ketika negara membutuhkan tambahan pasukan.
Konsep tersebut memungkinkan Israel mempertahankan jumlah tentara aktif yang lebih terbatas pada masa normal tetapi memperbesar kekuatan dengan cepat ketika terjadi perang.
Sejak konflik besar yang dimulai pada Oktober 2023, pasukan cadangan menghadapi periode pengerahan yang jauh lebih panjang dibanding keadaan normal.
Pada Februari 2026, Eyal Zamir bertemu para komandan brigade cadangan dan mengakui adanya persoalan kelelahan personel setelah periode operasi panjang. IDF menyatakan latihan, kesiapan dan dukungan terhadap keluarga reservist perlu diperkuat.
“Kekuatan IDF tidak hanya berasal dari pesawat, tank atau sistem rudal. Kemampuan mengaktifkan personel cadangan dalam jumlah besar menjadi salah satu fondasi utama sistem pertahanan Israel.”
Anggaran Pertahanan Israel Meningkat Sangat Besar
Peperangan berkepanjangan membutuhkan biaya besar untuk amunisi, personel, perawatan kendaraan, pesawat, kompensasi reservist, sistem pertahanan udara serta pembangunan kembali persediaan.
Knesset menyetujui anggaran pertahanan Israel 2026 sekitar 143 miliar shekel dari anggaran negara.
Selain itu terdapat sekitar 22 miliar shekel pengeluaran yang bergantung pada pemasukan, termasuk bantuan Amerika Serikat dan sumber lainnya. Knesset juga menyetujui sekitar 82,2 miliar shekel untuk komitmen pengeluaran berikutnya.
Besarnya anggaran memperlihatkan posisi sektor pertahanan dalam belanja negara Israel.
Amerika Serikat selama beberapa dekade juga menjadi pemasok dan mitra pertahanan utama Israel, terutama dalam pesawat, amunisi dan program pertahanan rudal.
Teknologi Menjadi Salah Satu Pilar Kekuatan Militer Israel
IDF memiliki hubungan yang kuat dengan industri teknologi pertahanan dalam negeri.
Israel Aerospace Industries, Rafael Advanced Defense Systems dan Elbit Systems menjadi beberapa perusahaan yang menghasilkan radar, drone, sistem komunikasi, rudal, sensor serta perangkat elektronik pertahanan.
Pengalaman operasi kemudian sering digunakan sebagai bahan evaluasi untuk memperbarui peralatan.
Digitalisasi juga membuat sistem komando semakin bergantung kepada jaringan komunikasi dan pengolahan informasi.
Kecerdasan buatan, analisis citra serta pemrosesan data dalam jumlah besar mulai memperoleh peranan lebih besar dalam dunia militer Israel.
Intelijen Memiliki Posisi Sangat Besar
Military Intelligence Directorate menjadi salah satu bagian penting IDF.
Unit intelijen mengumpulkan dan menganalisis berbagai informasi untuk mendukung pengambilan keputusan militer.
Israel juga dikenal mempunyai Unit 8200 yang bekerja dalam bidang intelijen sinyal dan teknologi.
Namun kegagalan mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 memicu kritik sangat besar terhadap sistem intelijen dan kesiapan militer Israel.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu kegagalan keamanan terberat sepanjang sejarah Israel dan memicu penyelidikan serta evaluasi internal di berbagai lembaga keamanan.
Operasi di Gaza Membawa IDF ke Sorotan Internasional
Perang di Gaza menjadi operasi militer terbesar Israel dalam beberapa dekade.
Israel menyatakan tujuan operasinya mencakup penghancuran kemampuan militer Hamas serta perlindungan terhadap keamanan Israel. Hamas memulai serangan pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel menurut penghitungan Israel dan membawa sekitar 250 orang ke Gaza sebagai sandera.
Peperangan berikutnya menimbulkan korban sangat besar di Gaza serta kerusakan luas.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata kemudian mengubah pola pertempuran, operasi militer belum sepenuhnya berhenti. Reuters pada 1 Agustus 2026 melaporkan serangan Israel di Gaza menewaskan sedikitnya 18 warga Palestina menurut pejabat kesehatan setempat. Israel menyatakan salah satu serangan menargetkan komandan Hamas.
Hukum Humaniter Menjadi Sorotan
Operasi Israel menghadapi kritik keras dari PBB, lembaga kemanusiaan serta organisasi hak asasi manusia terkait korban sipil dan kerusakan fasilitas publik.
Israel menyatakan Hamas beroperasi dari lingkungan sipil dan bahwa IDF mengambil langkah untuk mengurangi korban nonkombatan. Namun sejumlah lembaga internasional mempertanyakan apakah prinsip pembedaan, proporsionalitas dan tindakan pencegahan telah dijalankan secara memadai dalam berbagai serangan.
Komite Internasional Palang Merah kembali menegaskan pada Februari 2026 bahwa seluruh pihak dalam konflik wajib mematuhi hukum humaniter internasional. Rumah, rumah sakit, sekolah, petugas medis serta penduduk sipil harus memperoleh perlindungan sebagaimana diwajibkan hukum perang.
OHCHR sebelumnya juga menerbitkan laporan yang menilai terdapat indikasi kuat kegagalan sistematis dalam penerapan sejumlah prinsip hukum humaniter pada sejumlah serangan Israel yang ditelitinya. Israel telah menolak banyak tuduhan internasional mengenai cara militernya menjalankan operasi.
“Kekuatan militer selalu harus dinilai bersama tanggung jawab hukum. Kemampuan melakukan serangan presisi tidak menghilangkan kewajiban untuk membedakan sasaran militer dan penduduk sipil.”
Lebanon Menjadi Wilayah Penting dalam Perhitungan IDF
Perbatasan utara Israel dengan Lebanon juga menjadi salah satu wilayah operasi penting.
IDF dan Hezbollah terlibat dalam pertempuran intensif sejak 2023 yang kemudian berkembang menjadi konflik besar di Lebanon.
Pada 2026, pembicaraan mengenai pengaturan keamanan di Lebanon selatan terus berlangsung.
Reuters pada 7 Agustus 2026 melaporkan Israel dan Lebanon menyepakati daftar awal negara yang dapat dipertimbangkan untuk membantu verifikasi pelucutan senjata Hezbollah dalam sebuah mekanisme yang didorong Amerika Serikat. Pembicaraan tersebut juga berkaitan dengan penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Lebanon selatan.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa tugas IDF tidak hanya berkaitan dengan Gaza.
Komando Utara harus mempersiapkan pertahanan terhadap roket, drone dan kemungkinan infiltrasi dari wilayah Lebanon.
Home Front Command Mengurus Pertahanan Penduduk Sipil
Israel memiliki Home Front Command yang secara khusus menangani perlindungan warga ketika terjadi serangan.
Organisasi tersebut mengatur sistem peringatan, tempat perlindungan, prosedur keadaan darurat, penyelamatan dari bangunan serta koordinasi dengan pemerintah lokal.
Peranan unit ini semakin besar setelah Israel menghadapi serangan rudal dan drone dari berbagai wilayah.
Pada Januari 2026, Eyal Zamir mengunjungi markas Home Front Command dan menyatakan unit tersebut terus meningkatkan kesiapan menghadapi kemungkinan serangan ke wilayah sipil.
Sistem sirene dan aplikasi peringatan digunakan untuk memberikan waktu kepada warga agar mencari perlindungan ketika ancaman terdeteksi.
Pertahanan Sipil Menjadi Bagian dari Sistem Militer
Banyak bangunan Israel mempunyai ruang perlindungan atau akses menuju shelter.
Sekolah, fasilitas umum serta permukiman juga mempunyai prosedur berbeda berdasarkan lokasi dan waktu yang diperkirakan tersedia setelah sirene berbunyi.
Keberadaan sistem tersebut memperlihatkan bagaimana pertahanan Israel dibangun tidak hanya pada garis perbatasan.
Masyarakat sipil ikut berada dalam struktur kesiapsiagaan karena ancaman rudal dapat mencapai kawasan yang berada jauh dari medan pertempuran.
Tentara Israel Menghadapi Tekanan Operasional dan Sosial yang Berat
Operasi berkepanjangan sejak 2023 membuat IDF menghadapi tantangan yang tidak hanya berhubungan dengan jumlah persenjataan.
Kebutuhan personel meningkat, pasukan cadangan mengalami pengerahan berulang, keluarga reservist harus menyesuaikan kehidupan sehari hari, sementara anggaran pertahanan mengambil bagian besar dari keuangan negara.
Knesset bahkan pada Juli 2026 memperpanjang masa wajib militer menjadi 32 bulan sebagai salah satu upaya mengatasi kebutuhan tersebut.
Perdebatan mengenai pembagian kewajiban dinas juga terus berlangsung di masyarakat Israel.
Kelompok yang selama ini menjalani wajib militer menuntut distribusi kewajiban yang lebih merata, sementara persoalan perekrutan Haredi tetap mempunyai sensitivitas politik dan keagamaan yang tinggi.
Pada saat bersamaan, IDF harus menjaga kesiapan angkatan darat, udara dan laut serta mempertahankan kemampuan menghadapi ancaman pada beberapa wilayah sekaligus. Struktur militernya kini bekerja dalam keadaan yang jauh lebih intens dibanding periode sebelum Oktober 2023, sementara operasi di Gaza, pengaturan keamanan Lebanon, ancaman rudal regional dan perdebatan mengenai hukum perang terus menempatkan tentara Israel dalam perhatian internasional.

Comment