Menemukan cara menegur karyawan malas adalah tantangan klasik bagi banyak atasan, terutama di era kerja fleksibel seperti sekarang. Di satu sisi, kinerja tim harus dijaga agar target tercapai. Di sisi lain, teguran yang salah bisa memicu konflik, resign mendadak, hingga suasana kantor yang tidak kondusif. Menegur bukan sekadar menyampaikan ketidaksukaan, tetapi seni mengoreksi perilaku tanpa merusak harga diri.
Dalam praktiknya, banyak pimpinan terjebak antara dua ekstrem. Ada yang terlalu keras hingga membuat karyawan merasa dipermalukan, ada pula yang terlalu lembut sampai akhirnya perilaku malas dibiarkan berlarut larut. Padahal, jika dilakukan dengan tepat, teguran justru bisa menjadi momentum perubahan. Artikel ini mengulas secara rinci pendekatan yang lebih manusiawi namun tetap tegas dalam menegur karyawan yang menunjukkan gejala kemalasan.
Memahami Akar Masalah Sebelum Menegur Karyawan Malas
Sebelum menerapkan berbagai cara menegur karyawan malas, pimpinan perlu memahami dulu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak semua perilaku yang tampak seperti malas benar benar murni kemalasan. Ada kalanya karyawan sedang mengalami kelelahan mental, konflik pribadi, atau kebingungan terhadap tugas yang diberikan.
Sering kali atasan hanya melihat gejala di permukaan seperti datang terlambat, sering menunda pekerjaan, atau hasil kerja yang jauh di bawah standar. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, bisa jadi karyawan tersebut merasa tidak dihargai, tidak cocok dengan gaya kepemimpinan, atau tidak memahami prioritas kerja. Di titik ini, menegur tanpa pemahaman hanya akan menambah masalah.
Karyawan yang merasa diawasi terus menerus tanpa pernah diajak bicara secara terbuka biasanya akan mengembangkan sikap defensif. Mereka mungkin akan membalas dengan pasif agresif, menghindar, atau bekerja sekadarnya saja. Untuk mencegah lingkaran ini, pemimpin perlu mengumpulkan fakta, mengamati pola, dan memastikan teguran didasarkan pada data, bukan sekadar asumsi.
โPemimpin yang terburu buru menempelkan label malas pada karyawan tanpa mencari tahu penyebabnya, sesungguhnya sedang mempermudah masalah kompleks menjadi hitam putih. Padahal, ruang abu abu itulah yang sering menyimpan solusi.โ
Menyiapkan Momen dan Tempat yang Tepat untuk Teguran
Salah satu kunci cara menegur karyawan malas yang jarang dibahas adalah pemilihan waktu dan tempat. Teguran yang tepat isi, tapi disampaikan di momen yang salah, tetap berpotensi memicu baper dan resistensi. Banyak konflik di kantor sebenarnya bukan terjadi karena isi teguran, tetapi karena cara dan situasi ketika teguran disampaikan.
Sebaiknya, atasan menghindari menegur karyawan di depan rekan kerja lain. Teguran di ruang publik, meski nadanya halus, bisa terasa seperti mempermalukan. Karyawan bisa merasa disudutkan dan kehilangan kepercayaan diri. Idealnya, gunakan ruang tertutup yang tenang, tanpa gangguan, dan atur waktu yang cukup agar percakapan tidak terburu buru.
Pemilihan waktu juga penting. Mengajak bicara ketika karyawan sedang dikejar deadline berat atau baru saja mengalami masalah pribadi bisa memperburuk suasana. Luangkan waktu khusus, beritahu terlebih dahulu bahwa Anda ingin melakukan one on one meeting, sehingga karyawan tidak merasa seperti sedang diinterogasi mendadak.
Dengan menciptakan suasana yang aman dan privat, karyawan akan lebih mudah terbuka. Teguran pun bisa berubah menjadi dialog dua arah, bukan sekadar ceramah satu arah dari atasan. Dari situ, solusi bisa lebih mudah ditemukan dan disepakati bersama.
Gunakan Bahasa Tegas Namun Tetap Menghargai
Banyak atasan yang masih bingung menyeimbangkan ketegasan dan empati dalam cara menegur karyawan malas. Ada yang terlalu lembut hingga pesan tidak tersampaikan, ada yang terlalu keras hingga melukai perasaan. Kuncinya adalah fokus pada perilaku, bukan menyerang pribadi.
Alih alih mengatakan โkamu malasโ atau โkamu tidak niat kerjaโ, lebih baik gunakan kalimat yang spesifik pada tindakan. Misalnya, โDalam dua minggu terakhir, saya melihat laporanmu selalu terlambat dari jadwal dan beberapa tugas tidak selesai.โ Dengan begitu, karyawan memahami apa yang menjadi masalah tanpa merasa harga dirinya diruntuhkan.
Bahasa tubuh juga perlu diperhatikan. Tatapan yang menghakimi, nada suara tinggi, atau gestur tangan yang agresif bisa membuat karyawan merasa diserang meski kalimat yang diucapkan cukup netral. Sebisa mungkin jaga nada suara tenang, kontak mata yang wajar, dan posisi duduk yang sejajar, bukan seolah menginterogasi.
Sampaikan juga ekspektasi dengan jelas. Teguran yang hanya berisi keluhan tanpa arahan perbaikan akan membuat karyawan bingung. Jelaskan standar yang diharapkan, batas waktu, dan konsekuensi jika perilaku yang sama terulang. Namun, tetap beri ruang bagi karyawan untuk menyampaikan sudut pandangnya.
Menerapkan Teknik Umpan Balik Dua Arah
Dalam praktik cara menegur karyawan malas, teknik umpan balik dua arah menjadi sangat penting. Teguran bukan hanya momen atasan menyampaikan kekesalan, tetapi juga kesempatan untuk mendengar apa yang dirasakan karyawan. Banyak masalah produktivitas yang baru terungkap ketika karyawan diberi ruang bicara.
Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah memulai percakapan dengan pertanyaan terbuka. Contohnya, โSaya perhatikan belakangan ini performa kamu menurun. Menurut kamu, apa yang sedang terjadi?โ Pertanyaan semacam ini memberi sinyal bahwa atasan tidak langsung menghakimi, tetapi ingin memahami situasi.
Dari percakapan dua arah ini, sering kali muncul informasi penting. Mungkin karyawan merasa beban kerja tidak seimbang, ada konflik dengan rekan kerja, atau justru tidak mengerti prioritas tugas. Dengan mendengar terlebih dahulu, atasan bisa menyesuaikan teguran dan solusi agar lebih tepat sasaran.
Umpan balik dua arah juga membangun rasa memiliki. Ketika karyawan diajak merumuskan langkah perbaikan, mereka akan merasa dilibatkan, bukan sekadar diperintah. Hal ini meningkatkan komitmen untuk berubah, dibandingkan jika solusi dipaksakan sepihak oleh atasan.
โMenegur karyawan tanpa mau mendengar penjelasannya ibarat memvonis tanpa sidang. Mungkin cepat, tetapi sering kali meninggalkan luka yang lama sembuhnya.โ
Fokus pada Solusi, Bukan Mengungkit Kesalahan Berulang
Sering terjadi, atasan yang berniat mencari cara menegur karyawan malas justru terjebak dalam pola mengungkit masa lalu. Setiap kali ada kesalahan baru, seluruh daftar kesalahan lama kembali diangkat. Akibatnya, karyawan merasa apa pun yang dilakukan akan selalu salah di mata atasan.
Pendekatan yang lebih konstruktif adalah fokus pada solusi dan perubahan ke depan. Setelah menjelaskan perilaku yang bermasalah, segera arahkan pembicaraan ke langkah perbaikan. Misalnya, menyusun jadwal kerja yang lebih jelas, membuat daftar prioritas harian, atau mengurangi distraksi tertentu.
Atasan juga bisa menawarkan dukungan yang konkret. Jika karyawan mengaku kesulitan mengatur waktu, mungkin perlu pelatihan manajemen waktu atau pendampingan singkat. Jika masalahnya pada ketidakjelasan tugas, bisa dibuatkan panduan kerja yang lebih rinci. Teguran yang dibarengi bantuan akan terasa lebih adil dan manusiawi.
Namun, bukan berarti kesalahan berulang dibiarkan begitu saja. Catat secara sistematis jika perilaku malas terus terjadi meski sudah diingatkan. Jelaskan bahwa ada batas toleransi dan konsekuensi yang akan diterapkan. Dengan begitu, karyawan memahami bahwa solusi bukan sekadar wacana, tetapi bagian dari komitmen bersama.
Menyesuaikan Pendekatan dengan Karakter Karyawan
Tidak ada satu cara menegur karyawan malas yang cocok untuk semua orang. Setiap karyawan memiliki latar belakang, karakter, dan sensitivitas yang berbeda. Pemimpin yang efektif biasanya mengenali pola komunikasi yang paling tepat untuk tiap anggota tim.
Pada karyawan yang cenderung sensitif, teguran mungkin perlu dikemas lebih halus, dengan menekankan dukungan dan kepercayaan. Sementara itu, karyawan yang cenderung cuek kadang membutuhkan teguran yang lebih langsung dan tegas agar pesan benar benar tersampaikan. Di sinilah pentingnya kedekatan atasan dengan tim, bukan hanya secara formal tetapi juga secara emosional.
Generasi kerja juga bisa memengaruhi cara menegur. Karyawan yang lebih muda sering kali mengharapkan dialog yang egaliter dan terbuka, bukan perintah satu arah. Mereka ingin memahami alasan di balik teguran dan bagaimana hal itu berkaitan dengan tujuan tim. Sedangkan karyawan yang lebih senior mungkin lebih menghargai pendekatan yang menghormati pengalaman mereka.
Menyesuaikan pendekatan bukan berarti pilih kasih. Standar kinerja tetap sama, yang berbeda hanya cara penyampaian agar lebih efektif. Tujuannya tetap satu, yaitu membantu karyawan keluar dari zona malas dan kembali produktif tanpa merasa direndahkan.
Mengawal Perubahan Setelah Teguran Diberikan
Banyak atasan menganggap tugas selesai setelah menerapkan cara menegur karyawan malas secara tepat. Padahal, momen penting justru dimulai setelah teguran disampaikan. Apakah karyawan menunjukkan perubahan? Apakah dukungan yang dijanjikan benar benar diberikan? Apakah ada evaluasi lanjutan?
Tindak lanjut ini bisa dilakukan dalam bentuk pertemuan singkat berkala. Misalnya, seminggu atau dua minggu setelah teguran, atasan mengajak karyawan berdiskusi lagi untuk melihat perkembangan. Di sini, apresiasi atas perbaikan kecil sangat berarti. Pujian yang tulus dapat memperkuat motivasi karyawan untuk terus berubah.
Jika ternyata tidak ada perubahan signifikan, atasan perlu menegaskan kembali konsekuensi yang sudah dibicarakan sebelumnya. Konsistensi sangat penting agar teguran tidak dianggap angin lalu. Namun, tetap pastikan bahwa semua proses sudah dilakukan secara adil, mulai dari pemberian kesempatan, dukungan, hingga pendampingan.
Mengawal perubahan juga berarti memberi ruang bagi karyawan untuk belajar dari kesalahan tanpa terus menerus dicap malas. Seiring waktu, karyawan yang dulu sering ditegur bisa saja berubah menjadi anggota tim yang paling disiplin, asalkan proses pembinaan dilakukan dengan serius dan berkelanjutan.
Dengan pendekatan yang lebih terstruktur, empatik, dan berorientasi pada solusi, menegur karyawan yang tampak malas bukan lagi momok yang menakutkan. Sebaliknya, ia bisa menjadi bagian dari budaya kerja yang sehat, di mana koreksi bukan bentuk permusuhan, melainkan upaya bersama untuk tumbuh dan memperbaiki kualitas kerja.

Comment