Saham & Investasi
Home » Berita » Saham Saat Krisis Ekonomi Beli Apa yang Paling Cuan?

Saham Saat Krisis Ekonomi Beli Apa yang Paling Cuan?

saham saat krisis ekonomi
saham saat krisis ekonomi

Ketika badai ekonomi datang, banyak orang langsung panik dan menjauh dari pasar modal. Padahal, bagi investor yang tenang dan siap, saham saat krisis ekonomi justru bisa menjadi ladang peluang yang jarang muncul. Harga saham yang jatuh, valuasi yang turun, dan sentimen yang negatif sering kali membuka ruang untuk membeli perusahaan bagus dengan harga diskon. Namun, tidak semua saham layak dikoleksi di tengah ketidakpastian. Memilih saham yang tepat di saat krisis membutuhkan strategi, analisis, dan keberanian yang terukur.

Mengapa Saham Saat Krisis Ekonomi Bisa Jadi Peluang Emas

Krisis ekonomi biasanya ditandai dengan perlambatan pertumbuhan, meningkatnya pengangguran, dan turunnya daya beli. Kondisi ini membuat kinerja banyak perusahaan terganggu dan harga saham pun ikut tertekan. Namun jika dilihat dari sudut pandang jangka panjang, saham saat krisis ekonomi sering kali berada di level harga yang tidak mencerminkan nilai fundamental perusahaan secara penuh.

Investor besar dan institusi kerap memanfaatkan fase ini untuk melakukan akumulasi. Mereka membeli perlahan saham perusahaan berkualitas yang sedang “dijual murah” oleh pasar. Pola ini berulang di berbagai krisis, mulai dari krisis finansial global 2008, taper tantrum, hingga pandemi. Di setiap fase itu, ada kelompok investor yang berani melawan arus dan menikmati kenaikan harga signifikan setelah ekonomi berangsur pulih.

“Pasar yang panik sering kali lebih bising daripada pasar yang sepi, tetapi justru di tengah kepanikan itulah harga terbaik sering muncul.”

Ciri Saham Tahan Banting Saat Krisis Ekonomi

Tidak semua emiten mampu bertahan dalam tekanan berkepanjangan. Karena itu, sebelum berbicara tentang beli apa yang paling cuan, penting memahami ciri saham yang relatif tahan banting ketika ekonomi melemah.

Sanksi OJK ke Emiten REAL PIPA, Investor Wajib Waspada

Fundamental Kuat Jadi Pondasi Saham Saat Krisis Ekonomi

Perusahaan dengan fundamental kuat cenderung lebih siap menghadapi penurunan ekonomi. Dalam memilih saham saat krisis ekonomi, beberapa indikator dasar yang patut diperhatikan antara lain:

1. Neraca keuangan sehat
Perusahaan dengan utang yang terkendali, rasio utang terhadap ekuitas yang wajar, serta kas yang cukup, lebih mampu bertahan ketika pendapatan turun. Mereka punya ruang untuk menyesuaikan strategi tanpa langsung terancam gagal bayar.

2. Arus kas operasional positif
Krisis menekan penjualan, tetapi perusahaan yang tetap mencetak arus kas operasional positif menunjukkan bahwa bisnis intinya masih berjalan dan menghasilkan uang. Ini menjadi sinyal penting bahwa perusahaan tidak hanya bergantung pada pinjaman.

3. Laba yang konsisten
Emiten yang memiliki rekam jejak laba stabil atau tumbuh selama beberapa tahun sebelum krisis biasanya memiliki model bisnis yang lebih solid. Meski laba bisa turun saat krisis, titik awal yang kuat memberi bantalan tambahan.

4. Manajemen kredibel
Di masa sulit, kualitas manajemen diuji. Kebijakan efisiensi, pengelolaan kas, hingga komunikasi kepada investor menjadi faktor penentu kepercayaan pasar. Laporan tahunan dan paparan publik dapat menjadi sumber untuk menilai hal ini.

Ekspor Komponen Indospring Timur Tengah Melejit, Incar Kontrak Besar 2025

Sektor Defensif yang Tetap Dicari di Saat Sulit

Selain fundamental, pemilihan sektor juga berpengaruh besar. Beberapa sektor cenderung lebih defensif karena produknya tetap dibutuhkan, bahkan ketika ekonomi melambat. Dalam konteks saham saat krisis ekonomi, sektor berikut sering menjadi incaran:

1. Konsumer primer
Perusahaan yang menjual kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, dan barang rumah tangga sehari hari relatif lebih stabil. Masyarakat mungkin mengurangi belanja barang mewah, tapi tetap membeli produk esensial.

2. Kesehatan
Layanan kesehatan, farmasi, dan alat kesehatan tetap dibutuhkan. Permintaan sektor ini cenderung tidak banyak turun, bahkan bisa meningkat pada situasi tertentu.

3. Utilitas
Listrik, air, dan layanan dasar lainnya biasanya tetap digunakan. Perusahaan di sektor ini sering memiliki pendapatan yang lebih terprediksi.

4. Telekomunikasi
Kebutuhan komunikasi dan internet justru meningkat di beberapa jenis krisis, misalnya ketika banyak aktivitas beralih ke rumah. Operator telekomunikasi dan penyedia data menjadi tulang punggung konektivitas.

Top Losers Saham Pekan Ini FILM, PIPA hingga MINA Anjlok

Strategi Masuk ke Saham Saat Krisis Ekonomi Tanpa Nekat

Memasuki pasar di tengah ketidakpastian tidak boleh dilakukan dengan spekulasi buta. Diperlukan strategi yang disiplin agar peluang cuan tidak berubah menjadi kerugian besar. Saham saat krisis ekonomi bisa memberikan imbal hasil menarik jika pendekatannya terukur.

Teknik Beli Bertahap Mengurangi Risiko Salah Timing

Menentukan titik terendah harga saham hampir mustahil, bahkan bagi investor berpengalaman. Karena itu, strategi beli bertahap atau averaging in sering digunakan. Alih alih menghabiskan dana dalam satu kali transaksi, investor membagi pembelian dalam beberapa tahap.

Misalnya, seorang investor menargetkan alokasi 10 juta rupiah untuk satu saham. Ia bisa membaginya menjadi empat hingga lima kali pembelian dalam rentang beberapa minggu atau bulan. Jika harga turun, ia masih punya amunisi untuk membeli di harga lebih rendah. Jika harga naik lebih cepat dari perkiraan, ia tetap sudah memiliki posisi awal.

Pendekatan ini membantu mengurangi tekanan psikologis dan risiko salah waktu masuk pasar. Di tengah volatilitas tinggi, disiplin menjalankan rencana lebih penting daripada berupaya menebak titik terbawah.

Fokus Jangka Panjang di Tengah Gejolak Harga Harian

Salah satu kesalahan umum saat berinvestasi saham saat krisis ekonomi adalah terlalu fokus pada pergerakan harian. Fluktuasi yang tajam dapat memicu rasa takut dan serakah secara bergantian, membuat keputusan menjadi impulsif.

Investor yang berorientasi jangka panjang biasanya menetapkan horizon waktu minimal tiga hingga lima tahun. Mereka membeli perusahaan yang diyakini masih akan relevan dan tumbuh setelah badai ekonomi berlalu. Dalam kerangka ini, penurunan harga jangka pendek dilihat sebagai kesempatan menambah posisi, bukan alasan panik menjual.

“Jika kita membeli bisnis yang tepat di harga yang wajar, waktu sering kali menjadi sekutu, bukan musuh.”

Sektor dan Jenis Saham yang Berpotensi Cuan Saat Krisis

Setelah memahami prinsip dasar, pertanyaan berikutnya adalah apa yang layak dilirik. Tidak ada daftar pasti yang selalu berhasil di setiap krisis, namun pola tertentu sering berulang. Saham saat krisis ekonomi yang berpotensi cuan biasanya memiliki kombinasi fundamental kuat, sektor resilien, dan valuasi menarik.

Saham Blue Chip sebagai Pilar Portofolio Saat Krisis Ekonomi

Saham blue chip adalah saham perusahaan besar dengan reputasi mapan, kapitalisasi pasar besar, dan likuiditas tinggi. Di banyak bursa, termasuk Indonesia, saham jenis ini menjadi tulang punggung indeks utama. Dalam situasi krisis, blue chip kerap mengalami tekanan harga cukup dalam karena banyak investor melepas aset untuk mencari likuiditas.

Namun, justru di fase inilah peluang muncul. Perusahaan besar yang menguasai pangsa pasar, memiliki jaringan distribusi luas, dan brand kuat biasanya lebih cepat pulih ketika ekonomi membaik. Saham saat krisis ekonomi dari kategori blue chip bisa memberikan potensi keuntungan yang menarik karena rebound harga mereka sering lebih kuat.

Selain itu, saham blue chip umumnya menjadi sasaran utama investor institusi ketika kembali masuk ke pasar setelah gejolak mereda. Arus dana besar ini dapat menjadi pendorong tambahan bagi kenaikan harga.

Saham Dividen Stabil di Tengah Krisis Ekonomi

Bagi investor yang mencari aliran pendapatan rutin, saham dividen menjadi pilihan menarik. Di tengah krisis, perusahaan yang tetap mampu membagikan dividen menunjukkan kekuatan keuangan dan komitmen kepada pemegang saham. Saham saat krisis ekonomi yang menawarkan dividen stabil memberikan dua lapis potensi keuntungan, yaitu dari kenaikan harga dan dari pembagian dividen.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih saham dividen saat krisis:

1. Riwayat pembagian dividen
Perusahaan yang konsisten membagikan dividen selama bertahun tahun menunjukkan pola kebijakan yang relatif stabil.

2. Rasio pembayaran dividen
Rasio yang terlalu tinggi bisa berisiko jika laba menurun tajam. Rasio moderat menunjukkan perusahaan masih menyisakan cukup laba untuk ekspansi dan menjaga kesehatan keuangan.

3. Sumber pendapatan
Perusahaan dengan pendapatan yang relatif stabil lebih mampu menjaga dividen. Misalnya, perusahaan di sektor utilitas atau konsumer primer.

Dengan membeli saham saat krisis ekonomi yang memiliki dividen menarik, investor bisa mendapatkan yield yang lebih tinggi karena harga saham sedang tertekan.

Peran Saham Sektor Keuangan dan Komoditas Saat Ekonomi Tertekan

Sektor keuangan dan komoditas memiliki karakteristik unik di setiap krisis. Keduanya dapat menjadi sumber risiko sekaligus peluang, tergantung jenis krisis dan kondisi global. Memahami dinamika ini penting sebelum memutuskan masuk ke saham saat krisis ekonomi.

Bank dan Lembaga Keuangan di Tengah Lonjakan Risiko Kredit

Saham perbankan sering menjadi barometer kesehatan ekonomi. Saat krisis, risiko kredit meningkat karena debitur kesulitan membayar pinjaman. Hal ini berdampak pada kualitas aset bank dan menekan laba. Tidak heran jika saham bank bisa terkoreksi cukup dalam.

Namun di sisi lain, bank besar dengan manajemen risiko kuat dan permodalan tebal biasanya tetap bertahan. Mereka mungkin menahan ekspansi sementara, namun ketika ekonomi mulai pulih, penyaluran kredit kembali meningkat dan laba berangsur membaik. Saham saat krisis ekonomi di sektor perbankan yang berkualitas dapat memberikan potensi kenaikan harga signifikan ketika siklus berbalik.

Investor perlu memperhatikan rasio kecukupan modal, rasio kredit bermasalah, dan profil portofolio kredit. Bank yang terlalu agresif ke segmen berisiko tinggi mungkin lebih rentan dibanding bank yang portofolionya lebih terdiversifikasi.

Komoditas dan Saham Sumber Daya Alam

Krisis global sering memengaruhi permintaan komoditas seperti minyak, batu bara, logam, dan bahan baku lainnya. Harga komoditas bisa jatuh ketika aktivitas industri melambat. Perusahaan tambang dan energi pun terkena imbasnya, baik dari sisi pendapatan maupun laba.

Namun, faktor lain seperti kebijakan produksi negara produsen, ketegangan geopolitik, dan perubahan pasokan juga berperan. Dalam beberapa kasus, setelah penurunan tajam, harga komoditas berbalik naik ketika pasokan dikurangi atau permintaan kembali tumbuh. Saham saat krisis ekonomi di sektor komoditas bisa sangat volatil, tetapi bagi investor yang mengerti siklusnya, ini menjadi area spekulatif yang berpotensi tinggi.

Karena risikonya besar, porsi saham komoditas dalam portofolio saat krisis sebaiknya dibatasi dan hanya diisi oleh perusahaan dengan biaya produksi kompetitif serta neraca yang kuat.

Mengelola Psikologi dan Risiko Saat Berburu Cuan di Tengah Krisis

Aspek teknis dan fundamental sering kali lebih mudah dipelajari dibanding mengendalikan emosi. Padahal, psikologi memegang peran besar dalam keberhasilan investasi saham saat krisis ekonomi. Ketakutan berlebihan bisa membuat investor menjual di dasar, sementara keserakahan bisa mendorong membeli saham spekulatif tanpa analisis.

Membatasi risiko dengan diversifikasi, menentukan batas kerugian, dan hanya menggunakan dana yang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat menjadi langkah penting. Investor juga perlu menerima bahwa volatilitas adalah bagian tak terpisahkan dari krisis. Pergerakan tajam naik turun dalam jangka pendek bukan alasan otomatis untuk mengubah strategi yang sudah direncanakan matang.

Dengan memadukan analisis yang kuat, pemilihan sektor dan emiten yang tepat, strategi masuk yang disiplin, serta pengelolaan emosi yang baik, saham saat krisis ekonomi dapat berubah dari sumber ketakutan menjadi sumber peluang. Bagi mereka yang berani rasional di saat banyak orang panik, fase krisis sering menjadi titik awal cerita keuntungan terbesar di pasar saham.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *