Kalau Anda pelaku UMKM di Sumatera Barat, nama Bank Nagari sering jadi rujukan karena jaringannya kuat di daerah dan pilihan kreditnya beragam, dari pembiayaan usaha sampai skema KUR. Tapi satu pertanyaan yang paling sering muncul tetap sama: berapa bunganya, cara hitungnya seperti apa, dan apa yang bikin cicilan terasa ringan atau justru memberatkan.
Sebelum masuk ke detail, penting dipahami bahwa bunga pinjaman itu bukan cuma angka persen. Ada juga cara perhitungannya, ada biaya yang menyertai, ada tenor, dan ada profil usaha yang memengaruhi keputusan bank. Jadi, artikel ini saya tulis ala Kur.co.id, fokusnya membantu Anda membaca gambar besarnya, bukan sekadar mengejar angka.
Anda juga perlu tahu, untuk KUR, acuan suku bunga ditetapkan pemerintah dan selama beberapa tahun terakhir berada di 6 persen efektif per tahun. Itu sebabnya banyak orang membandingkan KUR dengan kredit komersial biasa.
Kenapa suku bunga jadi poin pertama yang ditanya pelaku usaha
Dalam pembiayaan usaha, bunga itu ibarat harga sewa uang. Semakin jelas Anda paham cara bank menghitungnya, semakin mudah Anda menilai: cicilan ini masuk akal atau tidak untuk arus kas usaha.
Yang sering terjadi di lapangan, debitur hanya fokus pada persentase, lalu kaget ketika cicilan bulanan lebih tinggi dari perkiraan. Penyebabnya biasanya ada di jenis perhitungan bunga, tenor, dan apakah skema cicilan dibuat tetap atau menurun.
Sebelum membahas jenis bunga, mari rapikan dulu konteks produk yang umum dicari di Bank Nagari.
Produk pinjaman yang sering dicari di Bank Nagari
Bank Nagari menyediakan beberapa kelompok pinjaman, termasuk pinjaman komersil dan KUR yang memang jadi andalan banyak UMKM.
Supaya tidak salah memilih, Anda perlu membedakan pinjaman untuk modal kerja harian dengan pinjaman untuk beli alat, renovasi tempat usaha, atau pembelian aset produksi.
Sebelum memilih produk, mari fokus ke yang paling banyak diburu UMKM, yaitu KUR.
KUR Bank Nagari: patokan bunga dan gambaran fiturnya
KUR menarik karena bunganya mengikuti kebijakan pemerintah. Suku bunga KUR yang paling sering dijadikan patokan adalah 6 persen efektif per tahun.
Di Bank Nagari, KUR dipakai untuk kebutuhan investasi maupun modal kerja usaha. Untuk gambaran umum, tenor modal kerja biasanya lebih pendek dibanding investasi karena sifat kebutuhannya berbeda.
Kalau Anda pelaku usaha yang butuh tambahan stok barang, etalase, atau alat kerja kecil, KUR dengan plafon kecil sering terasa lebih masuk karena cicilannya bisa disesuaikan napas usaha. Namun, prosesnya tetap butuh kelengkapan data dan verifikasi.
Agar tidak salah paham, berikutnya kita bahas bagaimana cara bank menghitung bunga, karena itu yang membentuk cicilan.
Jenis perhitungan bunga yang membuat cicilan bisa berbeda
Banyak orang menyebut bunga sekian persen seolah itu otomatis menentukan cicilan. Padahal, jenis bunga menentukan pola cicilan.
Di layanan kalkulator kredit bank, biasanya ada beberapa pilihan metode seperti flat, sliding, dan anuitas. Tiga metode ini yang paling sering menimbulkan beda hasil hitung, walau persentasenya tampak sama.
Nah, istilah istilah ini penting dipahami dengan bahasa sederhana.
Sebelum masuk satu per satu, saya beri gambaran dulu: flat biasanya cicilannya cenderung tetap, sliding cenderung menurun karena bunga dihitung dari sisa pokok, sedangkan anuitas umumnya cicilan total dibuat stabil tetapi komposisi pokok dan bunga berubah tiap bulan.
Bunga flat: cicilan terlihat stabil, total bunga bisa terasa rata
Dalam skema flat, bunga dihitung dari pokok awal dan dibuat rata sepanjang tenor. Banyak orang suka karena angkanya mudah diprediksi dan tidak bikin pusing saat menyusun anggaran.
Namun, Anda perlu teliti karena total beban bunga bisa terasa lebih tinggi dibanding skema yang menghitung bunga dari sisa pokok, terutama jika tenor panjang.
Setelah itu, ada skema yang sering dianggap lebih adil untuk usaha yang arus kasnya naik turun.
Bunga sliding: bunga mengikuti sisa pokok, cicilan bisa menurun
Pada skema sliding, bunga dihitung berdasarkan sisa pokok pinjaman. Artinya, ketika pokok Anda berkurang, komponen bunga ikut turun. Inilah alasan kenapa banyak pelaku usaha merasa cicilan makin ringan di belakang, asalkan pembayarannya lancar.
Ada versi perhitungan harian maupun bulanan. Intinya sama: sisa pokok jadi basis, bukan pokok awal. Buat usaha yang omzetnya musiman, model ini sering terasa lebih nyaman karena tidak “mengunci” beban bunga dari awal sampai akhir.
Berikutnya, ada skema yang sering dipakai untuk kredit dengan cicilan bulanan stabil.
Bunga anuitas: total cicilan bulanan stabil, porsi bunga besar di awal
Anuitas biasanya membuat angka cicilan bulanan stabil dari awal sampai akhir. Tapi di awal tenor, porsi bunga lebih besar, lalu perlahan porsi pokok membesar.
Buat Anda yang butuh kepastian angka bulanan untuk menyusun kas usaha, skema ini sering jadi pilihan. Tinggal pastikan cicilan bulanannya benar benar sesuai kemampuan, karena ketenangan usaha itu sering ditentukan oleh satu hal sederhana: cicilan jangan sampai mengejar napas.
Setelah paham jenis bunga, sekarang kita bicara faktor yang bikin bunga pinjaman terasa ringan atau berat.
Faktor yang paling sering mengubah rasa cicilan di lapangan
Bunga bukan satu satunya komponen. Tenor, plafon, dan kesiapan dokumen juga berperan.
Yang sering saya temui, pelaku UMKM sudah semangat mau ajukan pinjaman, tapi data usaha belum rapi. Padahal, bank biasanya menilai kelayakan dari jejak usaha, aliran transaksi, dan bukti usaha berjalan. Semakin jelas usaha Anda berjalan dan arus kas masuk akal, biasanya prosesnya lebih lancar dan opsi produk bisa lebih sesuai kebutuhan.
Satu lagi yang sering terlupakan: tenor. Tenor pendek membuat cicilan bulanan lebih besar, tetapi total bunga cenderung lebih kecil. Tenor panjang membuat cicilan bulanan lebih ringan, tetapi total bunga terkumpul lebih besar.
Saya pribadi lebih suka cicilan yang agak menekan di awal tapi cepat selesai, daripada cicilan kecil yang terasa aman namun mengikat terlalu lama.
Di tahap ini, Anda sudah punya bekal untuk bertanya dengan lebih tajam saat datang ke bank: jenis bunga apa, tenornya berapa, cicilan dihitung dengan metode apa, dan biaya apa saja yang menyertai.

Comment