Banyak pelaku UMKM memilih KUR BRI karena bunganya ringan dan prosesnya relatif jelas. Pertanyaan yang paling sering muncul biasanya sederhana: kalau ambil plafon Rp25 juta, cicilan per bulan jadi berapa, dan tenor mana yang paling masuk akal untuk arus kas usaha.
Kenali dulu jenis KUR BRI yang paling dekat dengan plafon Rp25 juta
KUR BRI punya beberapa skema. Untuk nominal Rp25 juta, umumnya masuk ke KUR Mikro karena batas maksimalnya sampai Rp50 juta per debitur, dengan bunga 6 persen efektif per tahun, serta disebut bebas biaya administrasi dan provisi pada informasi resmi BRI.
Satu hal yang sering luput, tenor maksimalnya mengikuti tujuan kredit. Di penjelasan BRI, kredit modal kerja maksimum 3 tahun, sementara kredit investasi maksimum 5 tahun. Jadi, pilihan 48 sampai 60 bulan biasanya relevan kalau pengajuan kamu diposisikan sebagai investasi usaha, bukan sekadar modal kerja harian.
Bunga 6 persen itu patokannya dari kebijakan KUR pemerintah
Skema KUR memang punya acuan kebijakan pemerintah, termasuk penetapan suku bunga 6 persen efektif per tahun dalam pedoman pelaksanaan KUR yang dirujuk oleh situs resmi Kemenko Perekonomian.
Namun, di lapangan kamu akan sering melihat “tabel angsuran” yang dihitung dengan pendekatan cicilan tetap per bulan untuk memudahkan simulasi. Karena itu, angkanya cocok dijadikan estimasi cepat, bukan angka saklek sebelum akad.
Simulasi angsuran KUR BRI Rp25 juta per bulan
Di berbagai publikasi tabel cicilan KUR BRI, contoh Rp25 juta sering ditampilkan sebagai cicilan bulanan tetap untuk beberapa pilihan tenor. Salah satu rujukan tabel yang memuat angka Rp25 juta adalah Kontan, dengan opsi 12, 18, 24, 36, 48, 60 bulan.
Berikut ringkasan simulasinya.
| Plafon | Tenor | Estimasi angsuran per bulan |
|---|---|---|
| Rp25.000.000 | 12 bulan | Rp2.208.333 |
| Rp25.000.000 | 18 bulan | Rp1.513.889 |
| Rp25.000.000 | 24 bulan | Rp1.166.667 |
| Rp25.000.000 | 36 bulan | Rp819.444 |
| Rp25.000.000 | 48 bulan | Rp645.833 |
| Rp25.000.000 | 60 bulan | Rp541.667 |
Cara membaca tabel supaya tidak salah ekspektasi
Angka di atas membantu kamu menilai kemampuan bayar dari omzet bersih. Misalnya, kalau usaha kamu punya ruang cicilan aman di kisaran Rp1 juta per bulan, tenor 24 bulan bisa terasa ketat, sedangkan 36 bulan lebih lega. Tapi jangan hanya terpaku pada “kecilnya cicilan”, karena tenor lebih panjang berarti total biaya bunga berjalan lebih lama.
Di sisi lain, tenor juga harus nyambung dengan kebutuhan. Modal kerja biasanya dipakai mutar stok dan operasional, jadi banyak pelaku usaha memilih tenor sampai 36 bulan agar tidak terlalu lama menanggung cicilan. Untuk pembelian alat, renovasi, atau mesin produksi, barulah tenor panjang terasa masuk akal, dan ini selaras dengan ketentuan tenor maksimum yang dicantumkan BRI untuk investasi sampai 5 tahun.
Syarat umum dan hal yang biasanya ditanya petugas
Sebelum bicara pencairan, bank akan menilai kelayakan usaha. Informasi ringkas di halaman KUR BRI menekankan sasaran KUR untuk usaha produktif, dengan plafon KUR Mikro sampai Rp50 juta dan bunga 6 persen efektif per tahun.
Supaya prosesnya lancar, biasanya yang diperiksa meliputi identitas, domisili, bukti usaha berjalan, dan kecocokan tujuan pinjaman dengan jenis kreditnya. Di tahap wawancara, pertanyaan yang sering keluar biasanya seputar perputaran omzet, margin, stok, catatan transaksi, serta rencana penggunaan dana.
Catatan penting untuk pinjaman KUR yang bukan pertama kali
Ada juga skema yang membedakan bunga berdasarkan urutan pinjaman KUR, misalnya pinjaman ke 1, ke 2, dan seterusnya, yang dicantumkan pada situs KUR BRI. Kalau kamu pernah ambil KUR sebelumnya, pastikan kamu tanya simulasi terbaru sesuai status pinjamanmu.
Strategi memilih tenor Rp25 juta agar cicilan tidak bikin seret
Kunci paling aman adalah menyesuaikan cicilan dengan arus kas, bukan sekadar mengejar plafon. Kalau omzet kamu musiman, tenor menengah sering lebih nyaman. Kalau usaha kamu stabil dan margin tebal, tenor lebih pendek bisa mempercepat pelunasan dan mengurangi beban total.
Sebagai patokan praktis, banyak pelaku UMKM menargetkan cicilan bulanan berada di level yang masih bisa ditutup dari laba bersih tanpa mengganggu belanja stok dan gaji. Dari tabel estimasi di atas, kamu bisa “mengunci” batas kemampuan bayar, lalu baru tentukan tenor yang sesuai kebutuhan usaha dan ketentuan jenis kreditnya.

Comment